Internet & E-Commerce

Maret 30, 2010

E-Commerce dan Standar-standar dalam E-commerce

PENDAHULUAN

Perkembangan  internet  menyebabkan  terbentuknya  sebuah  dunia  baru  yang  lazim disebut  dunia maya.  Di  dunia maya ini setiap  individu memiliki  hak dan kemampuan untuk   berinteraksi   dengan    individu   lain   tanpa   batasan   apapun   yang   dapat menghalanginya.  Sehingga globalisasi yang sempurna sebenarnya telah berjalan  di dunia  maya  yang  menghubungkan  seluruh  komunitas  digital.    Dari  seluruh  aspek kehidupan manusia yang terkena dampak kehadiran internet, sektor bisnis merupakan sektor  yang  paling  terkena  dampak  dari  perkembangan  teknologi  informasi  dan telekomunikasi serta paling cepat tumbuh.  Melalui e-commerce, untuk pertama kalinya seluruh manusia di muka bumi memiliki kesempatan dan peluang yang sama agar dapat bersaing dan berhasil berbisnis di dunia maya.

E-commerce   adalah   suatu  jenis  dari  mekanisme  bisnis  secara   elektronik  yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet (teknologi berbasis jaringan digital) sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua buah institusi (business to business) dan konsumen langsung (business to consumer), melewati kendala ruang dan waktu yang selama ini merupakan hal-hal yang dominan.  Pada masa persaingan ketat di era globalisasi saat ini, maka persaingan yang sebenarnya adalah terletak pada bagaimana sebuah perusahaan dapat memanfaatkan e-commerce  untuk  meningkatkan  kinerja  dan  eksistensi  dalam  bisnis  inti.    Dengan aplikasi e-commerce, seyogyanya hubungan antar perusahaan dengan entitas eksternal lainnya (pemasok, distributor, rekanan, konsumen) dapat dilakukan secara lebih cepat, lebih intensif, dan lebih murah daripada aplikasi prinsip manajemen secara konvensional (door to  door, one-to-one relationship).  Maka  e-commerce bukanlah sekedar suatu mekanisme penjualan barang atau jasa melalui  medium internet, tetapi juga terhadap terjadinya sebuah transformasi bisnis yang mengubah cara pandang perusahaan dalam melakukan aktivitas usahanya.  Membangun dan mengimplementasikan sebuah system e-commerce  bukanlah  merupakan  proses   instant,  namun  merupakan  transformasi strategi  dan  system  bisnis  yang  terus  berkembang  sejalan  dengan  perkembangan perusahaan dan teknologi. (http://www.makalah.net/makalah-tentang-e-commerce-dan-standar-standar-dalam-e-commerce/)

Istilah Internet, e-commerce hampir setiap hari kita baca di media cetak, kita dengar lewat media elektronik (radio dan TV), dan seminar serta lokakarya di berbagai tempat banyak menyinggung ketiga istilah tersebut. Investor dan pialang bursa efek banyak memperbincangkan saham-saham perusahaan dotcom. Media cetak menyediakan kolom khusus untuk e-commerce. Bahkan banyak ditemui majalah dan tabloid yang khusus membahas teknologi Internet, sarana pendukungnya (PC, modem, Web design/authoring tools, Internet Service Providers, dsb.), serta peluang-peluang bisnis yang memanfaatkan Internet.

Kota-kota pendidikan di mana terdapat konsentrasi mahasiswa yang tinggi dibanjiri oleh warung-warung Internet (warnet) yang menyediakan sarana Internet secara sewa, layaknya warung telekomunikasi (wartel). Di Karawang sendiri ada setidaknya 30 buah warnet yang tersebar di area sekitar Karawang kota.

Negroponte, profesor teknologi media pada Massachussets Institute of Technology, dalam bukunya Being Digital menyebut masa kini sebagai era ekonomi digital, yang menggantikan ekonomi atom. Dalam ekonomi masa lalu (ekonomi atom) harga suatu barang menjadi tinggi, bila barang tersebut langka (scarcity), sedangkan pada ekonomi digital harga suatu informasi menjadi tinggi bila informasi tersebut banyak (abundance).

Internet telah merubah cara kita berbisnis, cara kita belajar/mengajar, dan cara kita hidup. Mahasiswa dan dosen rajin mengakses bahan-bahan kuliah yang dikoleksi oleh berbagai perpustakaan maya.. Mereka menjadi mahir memanfaatkan sarana pencarian informasi di Internet (searching engines) seperti yahoo, altavista, lycos, hotbot, dsb. Mahasiswa dan dosen berkomunikasi via Internet menggunakan sarana e-mail. Bahkan banyak dosen membuat mailing list untuk kuliah yang ia asuh. Pebisnis menangkap peluang menangguk untung melalui sarana Internet: Internet banking, Internet mall, Information portals, dsb. Bahkan sesuatu kegiatan yang nampaknya nirlaba di Internet dapat merupakan kegiatan yang mendatangkan untung. Misalnya, information portal untuk keagamaan yang menyediakan free Web hosting bagi lembaga-lembaga keagamaan. Nampaknya portal rugi karena harus menyediakan infrastruktur (hard disk), tetapi ia untung dari segi koleksi informasi, tingginya hit counter (cacah pengunjung/pengakses), serta dari iklan (karena pengiklan hanya akan memasang iklan di homepage yang hit counternya tinggi).

TAKSONOMI E-COMMERCE

Sebenarnya e-commerce tidak harus berlangsung di Internet. E-commerce didefinisikan sebagai pelaksanaan bisnis dengan bantuan teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Dikenal pula istilah I-commerce, yakni aktivitas komersial yang terkait dengan penggunaan Internet. Oleh karena itu e-commerce lebih luas cakupannya, dan mau tidak mau perusahaan pada akhirnya akan memanfaatkan Internet dalam bisnisnya.

Bisnis yang memanfaatkan Internet dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis:

1. Transplanted Real-World Business Models: yakni aktivitas bisnis yang secara alamiah berlangsung di dunia nyata dan telah ditransplantasikan ke Internet. Sebagai contoh adalah

a. mail-order model: pembeli membeli barang dengan mengisi formulir, mengirimkannya via pos, dan mentransfer uang via bank. Kemudian ia menerima barang yang dikirm via pos. Contoh toko buku Internet http://www.amazon.com

b. advertising-based model :penyelenggara menyediakan layanan/informasi gratis bagi pengunjung. Dana pelaksanaan kegiatan diperoleh dari iklan. Contoh search engine http://www.yahoo.com.

c. subcription model : pengguna jasa memperoleh informasi dengan cara mendaftar/membayar sebagai pelanggan. Contoh America on Line (www.aol.com)

d. free-trial model : penyelenggara menyediakan produk/layanan/informasi gratis bagi pengunjung tetapi dalam versi percobaan (belum versi lengkap). Bila pengunjung tertarik setelah mencoba, ia akan membeli produk/layanan/informasi.

e. direct marketing model : Penyedia produk/layanan/informasi sering memberikan secara membabibuta surat berisi info produk. Versi Internetnya disebut spam, yakni e-mail yang disebar ke user yang kira-kira akan tertarik. Spam termasuk tidak sejalan dengan etika ber-Internet.

f. incentive scheme model : penyedia produk/layanan/informasi merangsang orang untuk membeli dengan iming-iming hadiah. Ketika membeli, pembeli diminta mengisi form isian berkaitan dengan misalnya penghasilan, umur, dsb. Data ini kemudian dipakai untuk segmentasi konsumen. Versi Internetnya adalah Web-based market research.

g. real-estate model : Seperti perusahaan real-estate menjual rumah, menguruskan sertifikat tanah, IMB, dsb., versi Internetnya adalah Web hosting, domain names, e-mail addresses, dsb. Di Internet ada http://www.jazi.com yang masih kosong dan bukan milik penulis. Dulu pemiliknya tentunya membeli domain ini dengan harga murah (mungkin US $100). Bila penulis ingin memperoleh domain http://www.jazi.com harus membeli dari pemiliknya, mungkin dengan harga puluhan ribu US $.

h. business to business : transaksi antara korporat

i. kombinasi : tipe-tipe bisnis di atas dapat berlangsung dalam bentuk kombinasi.

2. Native Internet Business Models: yakni aktivitas bisnis yang muncul karena adanya Internet. Misalnya

a. library model : perpustakaan mensyaratkan kita menjadi anggota dengan membayar uang pendaftaran dan memperoleh kartu anggota perpustakaan. Ketika meminjam buku, anggota tidak membayar, kecuali bila terlambat mengembalikan. Pada dasarkan Internet menyediakan informasi gratis.

b. freeware model : baynak software yang dapat didownload secara dratis misalnya Netscape, Apache Web Server, Linux, GNU, perl, majordomo, serta patches untuk software-software misalnya Microsoft. Patch berarti tisik mengambil analogi pakaian yang terkoyak perlu ditisik supaya tidak nampak. Demikian pula software yang ada bug-nya perlu ditisik (patched).

c. infromation barter model : pertukaran infromasi antar individu dan/atau oragnisasi

d. digital product and digital delivery model : digital delivary tidak perlu melewati petugas customs, tidak memerlukan biaya transportasi yang besar, serta tidak kena cekal.

e. access provision model :

f. Web site hosting and other Internet services :

AMANKAH BERBISNIS DI INTERNET?

Secara konvensional, pembeli membayar barang yang dibelinya dari penjual dengan berbagai cara. Di antaranya adalah : cash (kontan), cheque, credit card, debit card, direct debit, interbank transfer, credit transfer (giro), dsb.

Pembayaran dengan cash hanya cocok untuk transaksi yang nilainya kecil, dan tidak praktis untuk nilai yang besar, kedua pihak harus bertemu, anonim, tidak dapat diaudit, pembayaran terjamin, tetapi biayanya dapat mahal (misalnya bila satu pihak di Yogya dan pihak lain di London, bertemu di New York), dan dapat dicuri/dirampok di jalan.  Pembayaran dengan cheque relatif aman, tetapi pihak pembayar harus mempunyai rekening bank, ada resiko penerima mendapati cheque kosong, dan proses clearing bisa memakan waktu. Pembayaran dengan giro mengharuskan kedua belah pihak memiliki rekening bank, bank pembayar memverifikasi ketersediaan dana pada rekeing pembayar, mendebitnya dan kemudian mentransfernya ke rekening pihak terbayar, dan perlu ada proses clearing. Pembayaran dengan kartu bank menyangkut tiga institusi: bank pemberi kartu, bank penerima, dan pihak toko/penjual. Pembeli yang pemegang kartu bank dari bank pemberi kartu mengisi dan menandatangani Sales Voucher dan memberikan pada penjual. Penjual dapat mengambil dana dari bank penerima setelah ada proses clearing antara bank pemberi dan bank penerima.

Metoda pembayaran dipengaruhi oleh : besarnya transaksi, jarak fisik antara penjual dan pembeli, waktu pembayaran relatif terhadap waktu pembelian (pay in advance, pay now, pay later), dan tradisi/kultur.

E-commerce mensyaratkan dikembangkannya sarana pembayaran elektronik dengan tujuan peningkatan pembayaran jarak jauh via Internet, penurunan biaya, peningkatan efisiensi dan mengurangi ketidaknyamanan metoda pembayaran konvensional. Munculnya bisnis-bisnis baru di Internet juga memunculkan kebutuhan metoda baru dalam pembayaran.

Pembayaran elektronik dapat dilakukan dengan bank card, dan electronic cheque yang mempersyaratkan adanya rekening, selain itu ada metoda dematerialised money dan micropayment.

Keamanan transaksi menuntu adanya autentikasi, integritas, otorisasi, konfidensialitas, dan reliabilitas pembayaran. Selain itu juga harus dijamin anonimitas pembayar, transaksi tidak dapat dilacak, konfidensialitas data pembayaran, non-repudiasi pesan pembayaran, dan kesegaran pesan pembayaran. Untuk menjamin keamanan dapat dipakai berbagai metoda seperti : symmetric encryption, message digest, hash function, pauthentication protocol, public key encryption, digital signature, public key certificate, pseudonym, time stamp, smart card, secure hardware token, dsb.

Para pelaku e-commerce dan ahli-ahli komputer berusaha mengkompromikan antara resiko keamanan data yang rendah pada transaksi off-line (resiko keamanan data yang tinggi pada transaksi on-line), rendahnya biaya komunikasi pada transaksi on-line ( tingginya biaya komunikasi pada transaksi off-line), dan tingginya traceablity pada transaksi on-line (rendahnya traceability pada transaksi off-line) untuk memperoleh suatu sistem e-commerce yang secure.

Beberapa sarana pembayaran on-line yang sudah berkembang adalah:

1. mail order/ telephone order pada Internet : metoda pembayaran standar dapat dikembangkan di Internet dengan cara mengirimkan nomor kartu kredit pada saluran insecure. Resiko cukup besar terutama besarnya kemungkinan hacker memonitor traffic di Internet untuk mengetahui nomor kartu kredit. Namun demikian popularitas metoda ini mengindikasikan bahwa manfaatnya masih melebihi resiko kecurangan yang mungkin.

2. First Virtual : dikembangkan oleh First Virtual Holdings Inc. tahun 1994 dan dimaksudkan untuk pembayaran bernilai rendah dan untuk layanan virtual saja. FV tidak menggunakan teknik crypto dan tidak memerlukan software khusus. Konsumen mengirim detail kartu kredit dan alamat e-mail ke FV, kemudian FV memberikan password yang dinamakan Virtual PIN, via telepon. VirtualPIN inilah yang digunakan di Internet. FV berhenti beroperasi 1998

3. SSL (Secure Socket Layer) : Dikembangkan oleh Netscape 1994 untuk aplikasi www. Ini bukan suatu protokol pembayaran, tetapi saat ini digunakan terutama untuk pembayaran kartu kredit di Internet. Komunikasi antara pembeli dan penjual diekripsikan, dan penjual diautentikasikan. Deatil kartu kredit diproteksi pada jalur komunikasi tetapi dapat terbaca oleh penjual.

4. iKP: protokol iKP ini dikembangkan oleh IBM Research Labs. iKP didasarkan pada public key cryptography dan dikenal ada 1KP, 2KP, dan 3KP berdasarkan banyaknya pihak yang memiliki kunci publik. 3KP adalah pendahulu SET. 1KP memiliki kelemahan tidak ada bukti asal atau integritas pesan baik dari penjual maupun pembeli, serta tidak ada link eksplisit antara delivery dengan financial settlement.

5. CyberCash : Dikembangkan Agustus 1994. Pada 1996 ada 500.000 salinan “dompet” dalam sirkulasi (dipakai oleh CompuServe dan America On Line). CyberCash dipakai untuk membeli barang di Internet. Cybercash memenfaatkan software “dompet” khusus dan mengutip 2% komisi dari setiap transaksi

6. SET (Secure Electronic Transacions) : Komsumen memperoleh kunci tanda tangan dari pemberi kartu. Software khusus yang berjalan pada client mengenkripsikan dan menandatangani nomor kartu kredit dan besarnya transaksi serta mengirimkannya ke penjual. Penjual memforwardkannya ke pemilik kartu yang memproses transaksi melalui sistem kartu kredit dan memberikan otorisasi pada penjual. SET mempunyai keuntungan sertifikasi penjual dan pembeli dan bahwa nomor kartu kredit tidak diketahui oleh penjual.

7. Mondex, ElectronicCheque, NetCheque, NetBill, NetCash adalah berbagai metoda yang dikembangkan yang tidak mungkin dibahas dalam makalah ini satu persatu.

PERKEMBANGAN E-COMMERCE DI INDONESIA

E-Commerce (electronic commerce) merupakan salah satu teknologi yang berkembang pesat seiring dengan kehadiran internet dalam kehidupan kita.

E-Commerce sendiri didefinisikan sebagai ‘a series of activities that includes Electronic Data Interchange (EDI), Supply Chain Management tools, and Electronic Payment Systems’.

Ecommerce sendiri berasal dari layanan EDI (Electronic Data Interchange), layanan EDI ini telah berkembang sedemikian pesatnya di negara-negara yang mempunyai jaringan komputer dan telepon. Jika sebelumnya kita telah sering menggunakan media elektronik seperti telepon, fax, hingga handphone untuk melakukan perniagaan / perdagangan, sekarang ini, kita dapat menggunakan internet untuk melakukan perniagaan. E-Commerce memiliki beberapa jenis, yaitu:

  • Business to business (B2B):

Bisnis antara perusahaan dengan perusahaan lain

  • Business to consumer (B2C):

Retail, sifatnya melayani pelanggan yang bervariasi

  • Consumer to consumer (C2C):

Sifarnya lelang (auction)

  • Government: G2G, G2B, G2C,

melakukan layanan terhadap perusahaan untuk keperluan bisnis hingga melayani masyarakat.

Manfaat E-Commerce :

  • Revenue stream baru
  • Market exposure, melebarkan jangkauan
  • Menurunkan biaya
  • Memperpendek waktu product cycle
  • Meningkatkan customer loyality
  • Meningkatkan value chain

Perkembangan e-commerce di Indonesia sendiri telah ada sejak tahun 1996, dengan berdirinya Dyviacom Intrabumi atau D-Net (www.dnet.net.id) sebagai perintis transaksi online. Wahana transaksi berupa mal online yang disebut D-Mall (diakses lewat D-Net) ini telah menampung sekitar 33 toko online/merchant. Produk yang dijual bermacam-macam, mulai dari makanan, aksesori, pakaian, produk perkantoran sampai furniture. Selain itu, berdiri pula http://www.ecommerce-indonesia.com/, tempat penjualan online berbasis internet yang memiliki fasilitas lengkap seperti adanya bagian depan toko (storefront) dan shopping cart (keranjang belanja). Selain itu, ada juga Commerce Net Indonesia – yang beralamat di http://isp.commerce.net.id/. Sebagai Commerce Service Provider (CSP) pertama di Indonesia, Commerce Net Indonesia menawarkan kemudahan dalam melakukan jual beli di internet. Commerce Net

Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan lembaga-lembaga yang membutuhkan e-commerce, untuk melayani konsumen seperti PT Telkom dan Bank International Indonesia. Selain itu, terdapat pula tujuh situs yang menjadi anggota Commerce Net Indonesia, yaitu Plasa.com, Interactive Mall 2000, Officeland, Kompas Cyber Media, Mizan Online Telecommunication Mall dan Trikomsel.

Kehadiran e-commerce sebagai media transaksi baru ini tentunya menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses perniagaan dapat dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.

Perkembangan e-Commerce di Indonesia pada tahun-tahun mendatang.

E-commerce sebetulnya dapat menjadi suatu bisnis yang menjanjikan di Indonesia. Hal ini tak lepas dari potensi berupa jumlah masyarakat yang besar dan adanya jarak fisik yang jauh sehingga e-commerce dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Sayangnya, daya beli masyarakat yang masih rendah dan infrastruktur telekomunikasi yang tidak merata di daerah-daerah lainnya membuat e-commerce tidak begitu populer. Hal ini tak lepas dari jumlah pengguna internet di Indonesia yang hanya sekitar 8 juta orang dari 215 juta penduduk. Selain itu, e-commerce juga belum banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Meskipun relatif banyak perusahaan yang sudah memasang homepage, hanya sedikit yang memfungsikannya sebagai sarana perniagaan/perdagangan online. Sebagian besar homepage itu lebih difungsikan sebagai media informasi dan pengenalan produk. Menurut Adji Gunawan, Associate Partner dan Technology Competency Group Head Andersen Consulting, secara umum ada tiga tahapan menuju e-commerce, yakni: presence (kehadiran), interaktivitas dan transaksi. Saat ini, kebanyakan homepage yang dimiliki perusahaan Indonesia hanya mencapai tahap presence, belum pada tahap transaksi. Pada akhirnya, perkembangan teknologi dan peningkatan pengguna internet di Indonesia akan membuat e-commerce menjadi suatu bisnis yang menjanjikan.

Referensi

KESIMPULAN

Teknologi Internet, e-commerce merupakan peluang bagi sarjana ilmu komputer. Di sisi lain ia adalah tantangan bagi kita semua. Tetapi di sini kita tidak punya pilihan, mau tidak mau kita harus menjawab tantangan ini, agar survive di era teknologi informasi

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.sentralweb.com/
  2. http://www.makalah.net/makalah-tentang-e-commerce-dan-standar-standar-dalam-e-commerce/
  3. www.aol.com
  4. www.dnet.net.id